Jumat, 16 Maret 2012


A. PENDAHULUAN

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu dengan menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Pembelajaran sesuai dengan tahapanperkembanagan anak yang masih melihat segala sesuatu keutuhan, sehingga pembelajran yang menyajikan mata pelajaran secara terpish akan menyebabkan kurang mngembangkan anak untuk berfikir olistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik. Atas dasar pemikiran diatas pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik. Supaya kita dapat mengenal pembelajaran tematik itu seperti apa, disini kita akan mempelajarai tentang karakteristik, keunggulan dan kelemahan, prinsip-prinsip, rambu- rambu mplikasi, serta langkah- langkah dalam menyusunnya.


B. PEBAHASAN
1      Karakteristik Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Berpusat pada siswa
  2. Memberikan pengalaman langsung
  3. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
  4. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
  5. Bersifat fleksibel
  6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
  7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
Model pembelajaran seperti ini dapat diterapkan dalam pengembangan kompetensi akademik siswa terutama dalam mengembangkan daya kompetisi siswa melalui kegiatan ekstra kurikuler. Cocok juga untuk mengembangkan kompetensi siswa dalam mempersiapkan lomba pada berbagai mata pelajaran agar pembinanaan dapat dilakukan secara kolaboratif oleh banyak guru. Lebih banyak guru yang turut membina, asal teorganisir dalam sistem yang sehat, akan menghasilkan prestasi yang lebih baik,[1]
Adapun identik dengan butir- butir tesebut diatas, menurut Depdikbut (1996) karakteristik pembelajaran tematik tersebut adalah meliputi holistic, bermakna, autentik dan aktif :
·        Holistic, suatu gejala yang menjadi pusat perhatian dalam suatu pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa bidang kajian sekaligus, tidak dari sudur pandang yang terkotak- kotak, sehingga memungkinkan siswa- siswi untuk memahami suatu gejala/ fenomena dari segala sisi.
·        Bermakna, memungkinkan terbentuknya suatu jalinan anter konsep yang saling berhubungan atau disebut dengan schemata, sehingga dapat menambah kebermaknaan materi yang dipelajari.
·        Autentik, siswa- siswi mempelajari suatu konsep dan prisip melalui kejadian langsung yang dilaksanakan dalam proses kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan eksperimen.  Guru lebih berperan sebaai fasilitator dan siswa- siswi sebagai actor langsung dalam kegiatan tersebut untuk mencari dan memperoleh informasi dan pengetahuan.
·        Aktif, pembelajaran lebih menekankan pada aktifitas siswa- siswi secara fisik, mental, intelektual, dan mosional melalui tema tertentu yang sesuai dengan hasrat, minat, dan kemampuannya, sehingga ia termotifasi untuk terus menerus belajar.[2]
2       Implikasi Pembelajaran Ematik
Dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi yang mencakup:
a. Implikasi bagi guru
Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.
b. Implikasi bagi siswa
1. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.
2. Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah
c. Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media
1. Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar.
2. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
3. Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.
4. Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi
d. Implikasi terhadap Pengaturan ruangan
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi:
1. Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.
2. Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung
3. Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet
Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas
4. Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
5.  Alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.





e. Implikasi terhadap Pemilihan metode
Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap.[3]

3.    Keunggulan dan kelemahan pembelajaran tematik
beberapa keunggulan pembelajaran tematik menurut saud, (2006) antara lain sebaai berikut.
·        Mendorong guru untuk mengembangkan kreatifitas. Sehingga guru dituntut untuk memiliki wawasan, pemahaman, dan kreatifitas tinggi karena adanya tuntutan untuk memahami keterkaitan antara satu pokok bahasan ( substansi) dengan pokok bahasan lain dari berbagai mata pelajaran.
·        Memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang utuh, menyeluruh, dinamis, dan bermakna sesuai dengan keinginan dan kemampuan guru maupun kebutuhan dan kesiapan siswa- siswi.
·        Mempermudah dan memotivasi siswa-siswi untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antar konsep, pengetahuan, nilai, dan tindakan yang terdapat dalam beberapa pokok bahasan atau bidang studi.
·        Menghemat waktu, tenaga, dan sarana serta biaya pembelajaran, disamping menyderhanakan langkah-langkah pembelajaran.




Adapun kelemahannya yaitu:
·        Dilihat dari aspek guru, model ini menuntut tersedianya peran guru yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, kreatifitas tinggi, keterampilan metodologik yang handal, keperayaan diri dan etos akademik yang tinggi,  dan berani untuk mengemas dan mengembangkan materi.
·        Dilihat dari aspek siswa-siswi, pembelajaran tematik termasuk memiliki peluang untuk mengembangkan kreatifitas akademik, yang menuntut kemampuan belajar siswa-siswi yang relatif baik. baik dari aspek intelegensi maupun kreatifitasnya.
·        Dilihat dari aspek sarana dan sumber pembelajaran, pembelajaran tematik memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan berguna, seperti yang dapat menunjang dan memperkaya serta mempermudah mengembangkan wawasan dan pengetahuan yang diperlukan.
·        Dilihat dari aspek kurikulum, pembelajaran tematik memerlukan jenis kurikulum yang terbuka untuk pengembangannya.
·        dilihat dari system penilaian dan pengukurannya, pembelajran tematik tersebut membutuhkan sistem penilaian dan pengukuran (objek, indicator, dan prosedur) yang terpadu dalam arti system yang berusaha menetapkan keberhasilan belajar siswa-siswi dilihat dari beberapa mata pelajaran yang terkait atau dengan kata lain hasil belajar siswa-siswi merupakan kumpulan dan paduan penguasaan dari berbagai materi yang disatukan.
·        Dilihat dari segi suasana dan dan penekanan proses pembelajaran, pembelajaran tematik berkecenderungan mengakibatkan tenggelamnya salah satu atau lebih mata pelajaran.[4]

4.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar, terutama pada saat penggalian tematema, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan penilaian. Dalam proses penggalian tema-tema perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.       Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan untuk memadukan mata pelajaran.
2.       Tema harus bermakna, maksudnya tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya.
3.       Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
4.       Tema yang dikembangkan harus mampu menunjukkan sebagian besar minat siswa.
5.       Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan peristiwa-peristiwa otentik yang terjadi di dalam rentang waktu belajar.
6.       Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku serta harapan masyarakat.
7.       Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.

Pada proses pelaksanaan pembelajaran tematik perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.       Guru hendaknya tidak bersikap otoriter atau menjadi “single actor” yang mendominasi aktivitas dalam proses pembelajaran.
2.       Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok.
3.       Guru perlu bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan pembelajaran.
4.       Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri (selfevaluation) di samping bentuk penilaian lainnya.
5.       Guru perlu mengajak para siswa untuk menilai perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah disepakati.[5]
6.        
5.    Pelaksanaan/ Rambu-rambu Pembelajaran Tematik
Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
2.      Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
3.      Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan
4.      kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajkan secara tersendiri
5.      egiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, serta penanaman nilai-nilai moral
6.      tema-tema yang dipilih harus disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, dan lingkungan, dan daerah setempat
6.    Langkah-Langkah Menyusun Pembelajaran Tematik
Implementasi pembelajaran tematik, dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut:
1.      Mempelajari kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran
2.      Memilih tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi tersebut untuk setiap kelas dan semester
3.      Membuat mariks hubungan kompetensi dasar dengan tema. Dalam langkah ini penyusun memperkirakan dan menetukan kompetensi-kompetensi dasar paa sebuah mata pelajaran cocok dikembangkan dengan tema apa. [6]


[1] http://gurupembaharu.com/home/?p=5104. Diakses tanggal 12 maret 2012 jam 12.30 WIB


[2] Kurnia hidayati, pembelajaran tematik. ( ponorogo: STAIN PO press, 2009). Hlm. 9
[4] Kurnia hidayati, pembelajaran tematik. ( ponorogo: STAIN PO press, 2009). Hlm.10
[6]Kurnia hidayati, pembelajaran tematik. ( ponorogo: STAIN PO press, 2009). Hlm.14